Frame Psikologi

Frame Psikologi

Memuat...

Logo
Tanya Apapun Gratis

Tanya Psikolog

Tanya Apapun Mengenai Permasalahan Psikologis, Kesehatan Mental atau Perkembangan Psikologismu, Psikolog Frame Psikologi Siap Membantu, Gratis.

16 Diskusi Tersedia

Pertanyaan yang sudah dijawab oleh psikolog profesional

Kesehatan Mental Remaja Anonim

Cara Mengelola Cemas Saat Overthinking

Kenapa kalau pasangan belum balas chat, tiba-tiba jadi overthinking? ‘Dia masih sayang nggak, ya?’ ‘Ada yang berubah nggak, ya?’ ‘Jangan-jangan dia udah bosan.’ Kenapa kita bisa begitu membutuhkan reassurance dari pasangan untuk merasa tenang?

18 2 minggu yang lalu
Dinda Putri Mahendra, M. Psi., Psikolog • Psikolog
Sebenarnya, yang bikin kita cemas sering kali bukan karena chat-nya belum dibalas, tapi karena kita nggak tahu apa yang sedang terjadi. Terkadang ketika kita merasa kurang aman dalam hubungan, ketidakpastian itu bisa diisi oleh pikiran-pikiran yang paling kita takutkan.
“Jangan-jangan dia bosan.”
“Jangan-jangan perasaannya berubah.”
“Apa aku salah?”

Akhirnya kita mencari reassurance dari pasangan supaya bisa merasa tenang.
“Aku masih sayang kok.”
“Nggak ada yang berubah.”
Dan setelah mendengarnya, kita merasa lega. Sebenarnya, butuh reassurance itu wajar. Kita semua ingin merasa dicintai dan diyakinkan. Tapi, jangan sampai kita merasa “aku hanya bisa tenang kalau pasangan meyakinkan aku.” Coba belajar membedakan:

Fakta: “Dia belum membalas chat.”
Pikiran: “Dia sudah bosan sama aku.”

Belum tentu apa yang kita takutkan adalah apa yang sedang terjadi. Jadi, sebelum mencari kepastian dari pasangan, coba tenangkan diri dan tanyakan:
“Aku sedang menghadapi masalah, atau sedang menghadapi ketidakpastian?”
Karena terkadang, yang kita butuhkan bukan jawaban dari pasangan, tapi kemampuan untuk menenangkan diri ketika jawabannya belum kita dapatkan.
Keluarga Anonim

Bukan Terlalu Sensitif, Mungkin Kita Hanya Ingin Dimengerti

Kapan lulus?’ ‘Kapan kerja ?’ ‘Kapan nikah ?’ ‘Kok badan kamu sekarang begitu ?’ ‘Lihat tuh anak orang…’ Kedengarannya mungkin seperti komentar biasa, tapi kenapa kalimat-kalimat dari keluarga justru bisa bikin kita insecure, tertekan, bahkan mempertanyakan diri sendiri ?

27 2 minggu yang lalu
Digi Alamsyah, S.Psi., M.Psi. • Psikolog
Pertama, jangan langsung menyalahkan diri sendiri karena merasa sedih atau tersinggung. Perasaanmu tetap valid.

Kedua, belajar memahami bahwa nilai dirimu tidak ditentukan oleh pencapaian, bentuk tubuh, pekerjaan, status hubungan, atau standar kehidupan orang lain.

Dan yang paling penting, jangan lupa menghargai proses yang sedang kamu jalani.

Kamu boleh belum lulus, belum bekerja, belum menikah, atau belum mencapai sesuatu yang selama ini diharapkan keluarga.
Bukan berarti kamu tidak berkembang. Bisa jadi, kamu sedang berjuang dengan hal-hal yang tidak semua orang tahu.

Kamu tidak harus menjadi seperti orang lain hanya untuk membuktikan bahwa dirimu berharga.

Terkadang, kita hanya membutuhkan sedikit ruang untuk bernapas, berhenti membandingkan diri, dan kembali mengenali apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Kalau komentar keluarga, tekanan lingkungan, atau kebiasaan membandingkan diri mulai membuatmu lelah secara emosional, nggak ada salahnya mencari ruang untuk bercerita. 
Tekanan Akademik Anonim

Ketika Skripsi Terasa Berat

Kenapa ya, skripsi terasa berat banget padahal sebenarnya saya tahu saya mampu mengerjakannya? Setiap mau mulai rasanya berat, akhirnya menunda, merasa bersalah, lalu semakin stres. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

30 3 minggu yang lalu
Nur Septri Lestari, M.Psi., Psikolog • Psikolog
Terima kasih sudah bercerita di forum ini. Saya melihat kondisi ini tidak selalu berarti kamu malas atau tidak mampu. Kemampuan mengerjakan skripsi dan kemampuan untuk memulai mengerjakannya adalah dua hal yang berbeda. Skripsi merupakan tugas yang kompleks, dan hasilnya sering terasa sangat menentukan masa depan. Karena itu, ketika akan mulai, bisa muncul kecemasan, takut salah, takut mendapat banyak revisi, takut hasilnya tidak sesuai harapan, atau bingung harus memulai dari mana. Akhirnya, otak memilih menghindari tugas tersebut karena menunda memberikan rasa lega untuk sementara.

Masalahnya kemudian dapat membentuk sebuah siklus: merasa berat, lalu menunda, sehingga merasa lega sementara, namun waktu semakin sedikit, akan membuat kamu merasa bersalah, semakin stress, lalu skripsi terasa semakin berat, dan kembali menunda. Pada sebagian mahasiswa, perfeksionisme juga memperkuat siklus ini. Misalnya, merasa bahwa tulisan harus langsung bagus atau harus memahami semuanya terlebih dahulu sebelum mulai. Padahal, skripsi memang merupakan proses yang terdiri dari menulis, mendapatkan masukan, melakukan kesalahan, dan memperbaikinya. Jadi, yang perlu diubah bukan hanya “menambah motivasi”, tetapi juga cara memandang tugas dan merespons rasa tidak nyaman ketika mengerjakannya.

Karena itu, jangan meminta diri sendiri “harus menyelesaikan skripsi”, tetapi ubahlah menjadi “apa satu langkah kecil yang bisa saya kerjakan sekarang?” Misalnya, membaca dua jurnal, memperbaiki satu paragraf, membuat satu tabel penelitian terdahulu, atau bekerja selama 15–20 menit. Coba juga tanyakan kepada diri sendiri, “Sebenarnya apa yang paling membuat saya berat mengerjakan skripsi: takut salah, takut mengecewakan dosen, bingung, lelah, atau takut menghadapi masa depan setelah lulus?” Dengan memahami sumber hambatannya, kamu akan lebih mudah menentukan strategi. Jadi, kamu bisa saja memang mampu mengerjakan skripsi, tetapi sedang mengalami hambatan psikologis dalam memulai dan mempertahankan prosesnya.

Semoga membantu ya
Self Love Anonim

Membangun Kepercayaan Diri dari Dalam Diri

Kenapa ya, kita bisa pede banget di satu situasi, tapi tiba-tiba insecure ketika lihat pencapaian orang lain? Gimana cara membangun rasa percaya diri yang lebih stabil tanpa bergantung pada likes, komentar, validasi, atau pendapat orang lain ?

28 3 minggu yang lalu
Widya Resti Gusti Ayu, M.Psi., Psikolog • Psikolog
Hi!! Perasaan yang kamu rasakan sebenarnya cukup manusiawi kok. Apalagi di era digital saat ini segala bentuk "kesuksesan/pencapaian" yang kita lihat atas pencapaian orang lain secara tidak langsung berpengaruh terhadap standar penilaian "kesuksesan/pencapaian" yang kita yakini sebelumnya.

Terus caranya gimana agar kita bisa tetap percaya diri tanpa bergantung terhadap validasi orang lain?
1. Buat standar keberhasilan yang berasal dari diri sendiri bukan dari keberhasilan orang lain.
(Contohnya: apakah aku sudah melakukan yang terbaik lebih dari diriku yang kemarin?)
2. Belajar memisahkan "nilai diri/self worth" dengan "keberhasilan atau kesuksesan"
(Kegagalan, keterlambatan, atau belum mencapai sesuatu yang kamu usahakan tidak membuat kamu menjadi kurang berharga)
3. Belajar menerima bahwa terkadang orang lain mungkin boleh lebih unggul tanpa membuatmu merasa lebih rendah.
(Tidak semua hal harus dipandang sebagai sebuah kompetisi, kamu juga bisa jadi belajar hal baru dari orang lain)
4.Saat kamu mulai insecure, jangan langsung percaya pada pikiran tersebut.
(
Kamu bisa mencari bukti dari dalam diri atas segala usaha yang sudah kamu lakukan selama ini)
5. Jangan lupa untuk memberikan afirmasi positif kepada diri sendiri.
("Aku tidak harus menjadi lebih baik daripada orang lain untuk merasa baik tentang diriku sendiri")

Percaya diri yang sehat bukan berarti kamu tidak pernah merasa kecil ketika melihat orang lain. Kamu masih bisa sesekali merasa insecure, iri, atau ragu. Yang perlu dibangun bukan rasa percaya diri yang lebih stabil, tetapi rasa aman terhadap diri sendiri yang tetap ada meskipun sedang tidak mendapatkan validasi dari orang lain.

Semoga membantu ya 🤍


















Kesehatan Mental Umum Anonim

Seputar stres

Saya tidak merasa mengalami gangguan mental, tetapi akhir-akhir ini banyak hal yang membuat saya bingung, stres, dan sulit mengambil keputusan. Apakah saya tetap perlu berkonsultasi dengan psikolog, atau sebaiknya menunggu sampai masalah yang saya alami menjadi lebih berat?

30 3 minggu yang lalu
Aisyah Bunga Septiani, M.Psi., Psikolog • Psikolog
Selamat malam. Sebenarnya, untuk mendiagnosa seseorang mengalami gangguan mental perlu asesmen mendalam karena kata "gangguan"  itu sendiri sudah menunjukkan bahwa kondisi tersebut sudah diluar batas normal. Hanya karena seseorang mengalami kesedihan atau stres tidak selalu diartikan bahwa kondisi tersebut gangguan mental. Namun, memang umumnya banyak orang yang menganggap kondisi-kondisi tersebut sebagai gangguan mental. Jadi saya memahami kekhawatiran dan konfirmasi Mas/Mbak yang mengatakan ''Saya tidak merasa mengalami gangguan mental" hehe.

Pada dasarnya mengalami stres dan kebingungan sehingga sulit mengambil keputusan adalah hal yang umum terjadi pada setiap manusia, karena masalah sering muncul bahkan ketika kita tidak membuat masalah alias ''masalah karena faktor eksternal''. Namun, jika stres atau kondisi-kondisi tersebut sangat tidak nyaman dan mengganggu keseharian Mas/Mbak, maka meminta bantuan profesional juga dapat menjadi rekomendasi. Pada dasarnya, tenaga profesional seperti psikolog tidak hanya dapat membantu klien memvalidasi perasaan atau memotivasi, tapi juga membantu menguraikan benang kusut dikepala klien, agar ia mampu melihat masalahnya dengan lebih jelas, terarah dan menemukan solusi atas apa yang sedang dihadapi. 

Lalu pertanyaan terakhir, menunggu masalah menjadi lebih berat adalah keputusan yang kurang disarankan. Saat ini  mungkin Mas/Mbak sudah merasa tidak nyaman atas kondisi tersebut, bila masalah akan semakin besar maka perasaan ketidaknyamanan atau resiko lainnya bisa lebih besar. Namun keputusan menunggu hingga masalah lebih besar atau segera diselesaikan, tetap berada ditangan setiap orang termasuk Mas/Mbak. Hanya saja harus tetap mempertimbangan jika menunggu dulu hingga masalah semakin besar, apakah sudah siap menghadapi setiap resikonya. 
Semoga membantu.


Kesehatan Mental Umum Anonim

Dinamika Hubungan

Apakah sering bertengkar selalu berarti hubungan kita tidak sehat? Atau justru yang perlu diperhatikan adalah bagaimana konflik terjadi, bagaimana pasangan menyelesaikannya, dan dampaknya terhadap kondisi psikologis masing-masing?

29 3 minggu yang lalu
Aisyah Bunga Septiani, M.Psi., Psikolog • Psikolog
Selamat malam. Untuk pertanyaan pertama, tergantung seberapa sering dan besar pertengkaran itu terjadi. Pada dasarnya pertengkaran/konflik dalam sebuah hubungan adalah hal yang normal. Namun, jika pertengkaran sudah menjadi sering dan besar, maka kondisi tersebut sudah tidak lagi dianggap ''baik-baik saja''. Sehingga penting untuk mencari tau penyebab pertengkaran tersebut agar bisa segera mencari solusinya.

Untuk pertanyaan kedua, tentu cara pasangan menyelesaikan pertengkaran juga penting. Seperti yang disampaikan sebelumnya, pertengkaran dalam hubungan adalah hal yang normal, karena setiap orang tidak memiliki pandangan yang sama terhadap semua hal. Ada kalanya hal yang dianggap ''biasa'' atau ''bukan apa-apa'' oleh kita, ternyata hal yang menyakitkan untuk pasangan dan begitupun sebaliknya. 

Lalu, cara kita/pasangan menyelesaikan konflik juga akan mempengaruhi kondisi psikologis untuk salah satu atau kedua belah pihak. Misalnya jika kita hanya meminta maaf tanpa ada perubahan perilaku (pada perilaku yang dipermasalahkan pasangan) atau hanya fokus membela diri bahwa kita ''nggak bermaksud untuk melukai'' , hal-hal seperti itu bisa membuat pasangan kecewa, tidak dipahami, tidak dihargai dan lain sebagainya. Maka, penting untuk menyelesaikan konflik dengan tepat menyesuaikan dengan jenis konflik apa yang sedang dihadapi Mas/Mbak saat ini. 
Semoga membantu.

Punya Pertanyaan Lain?

Konsultasi langsung dengan psikolog profesional kami secara rahasia dan nyaman.

Mulai Konsultasi