Frame Psikologi

Frame Psikologi

Memuat...

Logo
Resiliensi

Resiliensi Saat Terjadi Bencana: Menguatkan Diri di Tengah Situasi Sulit

05 September 2026 6 min read 50 dilihat
Penulis Aulia Sari Cahyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Resiliensi Saat Terjadi Bencana: Menguatkan Diri di Tengah Situasi Sulit
Bencana dapat terjadi tanpa banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, kebakaran, tsunami, maupun bencana lainnya dapat mengubah kehidupan seseorang dalam waktu yang singkat.

Selain menyebabkan kerusakan fisik dan kehilangan harta benda, bencana juga dapat memberikan dampak psikologis. Seseorang mungkin merasa takut, panik, bingung, sedih, kehilangan rasa aman, atau khawatir terhadap kondisi keluarga dan masa depan.

Dalam situasi seperti ini, resiliensi menjadi salah satu bagian penting dalam proses menghadapi dan beradaptasi terhadap kondisi yang sulit.

Namun, resiliensi bukan berarti seseorang harus selalu kuat, tidak boleh menangis, atau mampu segera kembali seperti sebelum bencana. Resiliensi merupakan proses untuk beradaptasi, mencari dukungan, dan perlahan membangun kembali kemampuan untuk menjalani kehidupan setelah mengalami situasi yang berat.

Apa Itu Resiliensi?

Resiliensi secara sederhana dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk beradaptasi ketika menghadapi kesulitan, tekanan, perubahan, atau pengalaman yang berat.

Dalam konteks bencana, resiliensi dapat terlihat ketika seseorang berusaha memenuhi kebutuhan dasar, mencari informasi, menjaga hubungan dengan orang terdekat, menerima bantuan, dan secara bertahap menyesuaikan diri dengan kondisi baru.

Resiliensi bukan berarti seseorang tidak merasakan dampak bencana.

Seseorang yang merasa takut, sedih, marah, atau menangis tetap dapat memiliki resiliensi.
Merasa terpuruk setelah mengalami bencana bukan berarti seseorang lemah.

Setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam memproses pengalaman yang terjadi.
Bencana Dapat Memengaruhi Kondisi Psikologis

Setelah mengalami bencana, seseorang dapat menunjukkan berbagai respons psikologis.

Beberapa di antaranya:
  • Merasa takut atau cemas.
  • Sulit tidur atau mengalami perubahan pola tidur.
  • Mudah terkejut ketika mendengar suara tertentu.
  • Terus memikirkan kejadian yang telah terjadi.
  • Merasa sedih atau kehilangan.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Merasa tidak berdaya.
  • Mudah marah atau tersinggung.
  • Takut berada di tempat tertentu.
  • Merasa khawatir bencana akan terjadi kembali.

Respons tersebut dapat muncul dalam waktu yang berbeda pada setiap orang.
Pada sebagian orang, respons dapat berkurang seiring berjalannya waktu dan membaiknya kondisi. Namun, apabila gejala menetap atau semakin mengganggu kehidupan sehari-hari, dukungan profesional dapat diperlukan.

Resiliensi Bukan Tentang “Harus Kuat”
Ungkapan seperti “harus kuat” sering kali muncul ketika seseorang sedang mengalami musibah.

Niatnya mungkin baik, tetapi kalimat tersebut terkadang membuat seseorang merasa tidak memiliki ruang untuk menunjukkan kesedihan atau ketakutannya.

Padahal, menjadi kuat tidak berarti harus menyembunyikan emosi.
Menangis, merasa takut, membutuhkan bantuan, atau mengakui bahwa situasi terasa berat merupakan bagian yang dapat terjadi dalam proses menghadapi bencana.

Resiliensi bukan tentang menolak emosi, tetapi belajar mengenali dan menghadapinya secara bertahap.

Fokus pada Kebutuhan Dasar
Dalam situasi bencana, kebutuhan dasar perlu menjadi prioritas.
Keselamatan, makanan, air, tempat tinggal sementara, obat-obatan, komunikasi dengan keluarga, dan akses terhadap bantuan merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan.

Ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi, seseorang mungkin akan lebih sulit memikirkan hal-hal lain.
Karena itu, membangun resiliensi setelah bencana tidak selalu dimulai dari aktivitas psikologis yang kompleks. Terkadang, mendapatkan tempat yang aman, tidur yang cukup, makan, dan berada bersama orang yang dipercaya sudah menjadi bagian penting dari proses pemulihan.

Jangan Menghadapi Bencana Sendirian
Dukungan sosial memiliki peran penting ketika seseorang menghadapi situasi sulit.
Berbicara dengan keluarga, teman, tetangga, relawan, komunitas, atau petugas yang dapat dipercaya dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian.

Dukungan tidak selalu harus berupa solusi.
Terkadang, mendengarkan cerita seseorang tanpa menghakimi sudah menjadi bentuk bantuan yang berarti.
Jika seseorang ingin bercerita mengenai pengalaman yang dialaminya, berikan ruang untuk berbicara sesuai dengan kesiapannya. Tidak perlu memaksa seseorang untuk menceritakan kejadian traumatis secara detail.

Membantu Orang Lain dengan Empati
Ketika mendampingi penyintas bencana, penting untuk memperhatikan cara berkomunikasi.

Hindari kalimat yang menyalahkan atau membandingkan pengalaman seseorang, seperti:
  • “Kamu harusnya lebih kuat.”
  • “Jangan terlalu dipikirkan.”
  • “Orang lain lebih parah.”
  • “Sudah, lupakan saja.”
  • “Kamu harus bersyukur masih selamat.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin dimaksudkan untuk memberikan semangat, tetapi dapat membuat seseorang merasa bahwa emosinya tidak valid.

Sebagai gantinya, kita dapat mengatakan:
“Saya ada di sini kalau kamu ingin bercerita.”“Wajar kalau situasi ini terasa berat.”“Apa yang bisa saya bantu saat ini?”

Pendekatan yang sederhana, hadir, dan tidak menghakimi dapat memberikan rasa aman.

Anak dan Remaja Juga Membutuhkan Dukungan
Bencana dapat memberikan dampak psikologis pada anak dan remaja.
Mereka mungkin belum mampu menjelaskan perasaannya dengan jelas. Respons dapat terlihat melalui perubahan perilaku, seperti menjadi lebih mudah menangis, sulit tidur, lebih takut berpisah dari orang tua, menjadi lebih diam, mudah marah, atau menunjukkan perubahan kebiasaan.

Orang dewasa dapat membantu dengan menciptakan rutinitas yang lebih teratur, memberikan rasa aman, menjelaskan situasi dengan bahasa yang sesuai usia, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya.

Tidak semua perubahan perilaku berarti anak mengalami gangguan psikologis. Namun, perubahan yang menetap atau semakin mengganggu perlu mendapatkan perhatian.

Berikan Waktu untuk Pulih
Pemulihan setelah bencana tidak selalu berlangsung dalam waktu singkat.
Ada orang yang dapat kembali menjalani rutinitas dengan relatif cepat. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa aman kembali.

Tidak perlu membandingkan proses pemulihan satu orang dengan orang lainnya.
Setiap orang memiliki pengalaman, kehilangan, kondisi sosial, dan sumber daya yang berbeda.
Yang penting adalah memberikan ruang bagi proses adaptasi secara bertahap.

Membangun Kembali Rutinitas
Ketika situasi mulai memungkinkan, membangun kembali rutinitas sederhana dapat membantu memberikan struktur dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya:
  • Menentukan waktu tidur dan bangun.
  • Menjaga pola makan.
  • Melakukan aktivitas sederhana.
  • Berkomunikasi dengan keluarga.
  • Kembali menjalankan aktivitas pendidikan atau pekerjaan secara bertahap.
  • Meluangkan waktu untuk beristirahat.

Rutinitas dapat memberikan rasa keteraturan ketika kehidupan sebelumnya mengalami perubahan besar.
Batasi Paparan Informasi yang Berlebihan

Informasi sangat penting dalam situasi bencana, terutama untuk mengetahui kondisi terkini dan informasi keselamatan.

Namun, paparan berita, video, atau informasi mengenai bencana secara terus-menerus dapat meningkatkan kecemasan pada sebagian orang.
Pilih sumber informasi yang dapat dipercaya dan batasi paparan terhadap konten yang tidak memberikan manfaat langsung.

Terutama pada anak, orang dewasa perlu mempertimbangkan jenis informasi yang mereka lihat dan dengarkan.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Tidak semua orang yang mengalami bencana membutuhkan intervensi psikologis secara langsung. Namun, bantuan profesional dapat dipertimbangkan ketika respons psikologis terasa berat, menetap, atau mengganggu fungsi sehari-hari.

Misalnya ketika seseorang:
  • Terus mengalami ketakutan yang sangat mengganggu.
  • Mengalami gangguan tidur yang menetap.
  • Sulit menjalankan aktivitas sehari-hari.
  • Terus-menerus mengalami ingatan atau bayangan mengenai kejadian.
  • Menghindari banyak situasi karena ketakutan.
  • Mengalami perubahan emosi yang sulit dikendalikan.
  • Merasa sangat putus asa atau tidak mampu menjalani kehidupan.
  • Mengalami kesulitan menjalankan peran di keluarga, pekerjaan, atau pendidikan.

Dalam kondisi tersebut, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi salah satu langkah untuk mendapatkan dukungan yang sesuai.

Jika terdapat kondisi darurat yang berkaitan dengan keselamatan diri atau orang lain, bantuan darurat dan layanan kesehatan setempat perlu segera dihubungi.

Resiliensi Dapat Tumbuh Bersama Dukungan
Resiliensi bukan kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu.

Dalam banyak situasi, resiliensi dapat berkembang melalui pengalaman, dukungan sosial, kemampuan beradaptasi, sumber daya yang tersedia, serta kesempatan untuk mendapatkan bantuan.

Karena itu, penyintas bencana tidak perlu dipaksa untuk segera “kembali kuat”.
Yang dibutuhkan adalah keamanan, dukungan, kesempatan untuk beradaptasi, dan ruang untuk memulihkan diri.
Tidak Harus Kuat Sendirian

Bencana dapat meninggalkan pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Proses untuk kembali merasa aman dan menjalani kehidupan mungkin membutuhkan waktu.

Tidak apa-apa jika proses tersebut berlangsung perlahan.

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Berbicara dengan orang yang dipercaya, menerima bantuan dari lingkungan, maupun berkonsultasi dengan profesional dapat menjadi bagian dari proses membangun resiliensi.

Jika Anda atau orang terdekat sedang mengalami dampak psikologis setelah bencana, konsultasikan bersama psikolog di Frame Psikologi untuk mendapatkan ruang yang aman dalam memahami dan menghadapi pengalaman tersebut.

Frame Psikologi — Ruang untuk memahami diri, hubungan, dan proses bertumbuh.
#Resiliensi #ResiliensiPsikologis #ResiliensiSaatBencana #Bencana #PsikologiBencana #PsikologiKebencanaan #KesehatanMental #KesehatanMentalIndonesia #PemulihanPsikologis #PemulihanPascaBencana #PenyintasBencana #DukunganPsikologis #DukunganSosial #Trauma #TraumaPsikologis #Kecemasan #Stres #KetahananMental #KetahananPsikologis #Coping #Adaptasi

Temukan Ketenangan Bersama Kami

Konsultasi dengan psikolog profesional secara online. Privasi terjaga, aman, dan nyaman.

Mulai Konsultasi